Siang itu saya dan kawan-kawan saya hendak berangkat berlibur menuju Pulau
Seribu. Keadaan Muara Angke saat itu tak
terlalu ramai. Karena kami berangkat saat orang-orang hendak pulang. Hehe.
Sebelum berangkat kami sempatkan berdoa. Ya, berdoa. Saya yakin saya punya
Tuhan. Namun, apa pantas saya berdoa? Sementara
mengobrol mesra dengan Sang Kuasa saja tak pernah. Jangankan mengobrol,
menyapa-Nya saja jarang. Yah, walaupun begitu saya tetap tak tahu malu, saya
tetap berdoa. Maaf kan saya Tuhan. Setelah kami selesai berdoa salah satu dari
kami ada yang nyeletuk entah itu hanya sekedar candaan atau memang itu
keinginan dari lubuk hatinya.
“Yaa Allah, semoga ada badai besar biar perjalanannya
seru!.”
Tanpa ada satu pun yang
berkomentar, kami langsung membubarkan diri sambil menyentak.
“Wah, gila lo!”
Dengan tampang polos
dia menjawab.
“Dih, kenapa sih? Kan biar seru!”
Dalam lubuk hati saya,
saya benar-benar memohon semoga apa yang dia katakan hanyak sekedar candaan
belaka. Walau disebut candaan pun itu sama sekali tak pantas! Tak berotak kalau
saya bilang! Yah, kami anggap itu hanya angina lalu. Angin yang mungkin bisa
menjadi badai.
Saat sudah menaiki
kapal, kami duduk di lantai 2 kapal. Duduk di buntut kapal yang tak beratap
karena semua dari kami adalah perokok aktif jadi kami memilih duduk di luar
ruangan. Alasan kedua, kami tak ingin melewatkan udara sejuk dan suara khas
lautan lepas. Badan dan batin kami merindukan suasana ini yang tak mungkin kami
temui dalam himpunan asap dan panas terik khas Kota Jakarta. Tak lama, kapal
yang kami naiki berjalan sesuai waktunya.
Tanpa memperdulikkan
orang-orang di sekitar kami, kami bercanda dan tertawa lepas layaknya anak
kecil yang belum mengenal sopan santun. Yah, mau bagaimana lagi, dengan segala
hormat itu lah kami! Kami hanya mencoba menikmati waktu yang langka ini. Angin
lautan menyapa kami dengan suara merdu nya. Ah, terima kasih banyak laut atas
sambutanmu. Maaf kan kami yang telah “memperkosa” mu dengan segundang sampah
kami. Kami yang menciptakan pengertian Polusi Air, kami juga yang
mempraktikannya.
Karena terbuai dengan
hembusan nafas lautan beberapa dari kami tertidur pulas termasuk saya. Namun,
tak lama salah satu dari kami membangunkank kami dengan tergesa-gesa karena
hujan turun walaupun hanya rintik-rintik kami tetap bergegas pergi ke dalam
ruangan untuk mengantisipasi datangnya pasukan rintik yang lebih banyak. Benar
saja, tak lama pasukan rintik pun datang.
“
Tuh kan hujan gede, bagus gue bangunin lu pada!” Seru
Jarot, teman yang membangunkan kami.
Memang benar apa yang
di katakan Jarot, jika saja kami telat beberapa menit mungkin nasib kami akan
sama seperti orang diluar ruangan yang tak kebagian tempat untuk berteduh.
Hujan semakin besar
tanpa tau jumlah dan arah yang kemudian laut menyambutnya dengan ombak. Serasi!
Kapal kami terbanting ke kanan dan ke kiri layak nya kapal kertas yang sedang
di main kan anak kecil di genangan air. Saking besarnya ombak, nahkoda kapal
sampai mematikan mesinnya. Dia tak mau mengambil resiko. Karena ketika laut
sedang marah tak ada yang sanggup melawannya sekalipun kapal itu 10x lebih
canggih dari Titanic. Besi saja mampu laut hancurkan bagaimana hanya sekedar
kayu. Tentunya atas kehendak Yang Maha Kuasa.
Tanpa ada sebuah
aba-aba hampir semua orang berdoa menurut kayakinannya masing-masing, termasuk
kami. Jelas, kami berdoa pada Tuhan yang keluarga kami percayai. Tuhan yang tak
pernah kami cari. Tuhan yang tak pernah kami ajak mengobrol. Kurang ajarnya
kami berani meminta padahal mengajak mengobrol saja tak pernah. Saya memang
yakin Tuhan pasti mendengar doa setiap umatnya, se-brengsek apapun umatnya.
Namun, apa harus dengan musibah baru kita mau ber-interaksi dengan Tuhan? Sekarang saya percaya bahwa setiap orang
atheis pun berubah menjadi seorang paham agama jika dia sedang dalam musibah.
Dan, saya percaya jika Tuhan memang Maha membolak-balikkan hati seseorang.
Terima kasih dan maafkan kami Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar