Sabtu, 12 Desember 2015

Terima Kasih dan Maafkan Kami, Tuhan.

Siang  itu saya dan kawan-kawan  saya hendak berangkat berlibur menuju Pulau Seribu. Keadaan Muara Angke  saat itu tak terlalu ramai. Karena kami berangkat saat orang-orang hendak pulang. Hehe. Sebelum berangkat kami sempatkan berdoa. Ya, berdoa. Saya yakin saya punya Tuhan. Namun,  apa pantas saya berdoa? Sementara mengobrol mesra dengan Sang Kuasa saja tak pernah. Jangankan mengobrol, menyapa-Nya saja jarang. Yah, walaupun begitu saya tetap tak tahu malu, saya tetap berdoa. Maaf kan saya Tuhan. Setelah kami selesai berdoa salah satu dari kami ada yang nyeletuk entah itu hanya sekedar candaan atau memang itu keinginan dari lubuk hatinya.
            “Yaa Allah, semoga ada badai besar biar perjalanannya seru!.”
Tanpa ada satu pun yang berkomentar, kami langsung membubarkan diri sambil menyentak.

            “Wah, gila lo!”
Dengan tampang polos dia menjawab.  

            “Dih, kenapa sih? Kan biar seru!”

Dalam lubuk hati saya, saya benar-benar memohon semoga apa yang dia katakan hanyak sekedar candaan belaka. Walau disebut candaan pun itu sama sekali tak pantas! Tak berotak kalau saya bilang! Yah, kami anggap itu hanya angina lalu. Angin yang mungkin bisa menjadi badai.
Saat sudah menaiki kapal, kami duduk di lantai 2 kapal. Duduk di buntut kapal yang tak beratap karena semua dari kami adalah perokok aktif jadi kami memilih duduk di luar ruangan. Alasan kedua, kami tak ingin melewatkan udara sejuk dan suara khas lautan lepas. Badan dan batin kami merindukan suasana ini yang tak mungkin kami temui dalam himpunan asap dan panas terik khas Kota Jakarta. Tak lama, kapal yang kami naiki berjalan sesuai waktunya.
Tanpa memperdulikkan orang-orang di sekitar kami, kami bercanda dan tertawa lepas layaknya anak kecil yang belum mengenal sopan santun. Yah, mau bagaimana lagi, dengan segala hormat itu lah kami! Kami hanya mencoba menikmati waktu yang langka ini. Angin lautan menyapa kami dengan suara merdu nya. Ah, terima kasih banyak laut atas sambutanmu. Maaf kan kami yang telah “memperkosa” mu dengan segundang sampah kami. Kami yang menciptakan pengertian Polusi Air, kami juga yang mempraktikannya.

Karena terbuai dengan hembusan nafas lautan beberapa dari kami tertidur pulas termasuk saya. Namun, tak lama salah satu dari kami membangunkank kami dengan tergesa-gesa karena hujan turun walaupun hanya rintik-rintik kami tetap bergegas pergi ke dalam ruangan untuk mengantisipasi datangnya pasukan rintik yang lebih banyak. Benar saja, tak lama pasukan rintik pun datang.
            “
Tuh kan hujan gede, bagus gue bangunin lu pada!” Seru Jarot, teman yang membangunkan kami.

Memang benar apa yang di katakan Jarot, jika saja kami telat beberapa menit mungkin nasib kami akan sama seperti orang diluar ruangan yang tak kebagian tempat untuk berteduh.
Hujan semakin besar tanpa tau jumlah dan arah yang kemudian laut menyambutnya dengan ombak. Serasi! Kapal kami terbanting ke kanan dan ke kiri layak nya kapal kertas yang sedang di main kan anak kecil di genangan air. Saking besarnya ombak, nahkoda kapal sampai mematikan mesinnya. Dia tak mau mengambil resiko. Karena ketika laut sedang marah tak ada yang sanggup melawannya sekalipun kapal itu 10x lebih canggih dari Titanic. Besi saja mampu laut hancurkan bagaimana hanya sekedar kayu. Tentunya atas kehendak Yang Maha Kuasa.


Tanpa ada sebuah aba-aba hampir semua orang berdoa menurut kayakinannya masing-masing, termasuk kami. Jelas, kami berdoa pada Tuhan yang keluarga kami percayai. Tuhan yang tak pernah kami cari. Tuhan yang tak pernah kami ajak mengobrol. Kurang ajarnya kami berani meminta padahal mengajak mengobrol saja tak pernah. Saya memang yakin Tuhan pasti mendengar doa setiap umatnya, se-brengsek apapun umatnya. Namun, apa harus dengan musibah baru kita mau ber-interaksi dengan Tuhan?  Sekarang saya percaya bahwa setiap orang atheis pun berubah menjadi seorang paham agama jika dia sedang dalam musibah. Dan, saya percaya jika Tuhan memang Maha membolak-balikkan hati seseorang. Terima kasih dan maafkan kami Tuhan.  

Rabu, 25 November 2015

Kemerdekaan Semu

Inlander, sebuah kata yang bermakna “ejekan” penjajah Belanda pada kaum pribumi, tepatnya masyarakat Nusantara. Memang 350 tahun masa penjajahan Belanda bisa dikatakan debatable. Yang pasti, Belanda teramat lama lama di Nusantara ini.  Belanda adalah penjajah Nusantara paling lama dibadingkan dengan penjajah lainnya macam Spanyol, Portugis, Inggris, dan Jepang. Dan efeknya adalah masih ada sisa-sisa jajahannya, seperti bangunan,sistem,bahasa,budaya hingga mental! Ya mental Inlander! Mental pesuruh! Ya, ini adalah mental peninggalan penjajah Belanda.

Mental inlander, berarti kondisi jiwa, sikap, dan perilaku, yang selalu menganggap dari luar(barat) itu baik, maju, modern, pantas. Dan menganggap budaya dari bangsanya sendiri itu buruk, kolot, primitive, ketinggalan zaman, terbelakang, dan tidak pantas. Dengan kata lain, inlander adalah perasaan rendah hati sebagai bangsa Indonesia. Miris!

Ya kita harus akui memang kemampuan penjajah menciptakan mental inlander ini. Bukan hanya mengeruk kekayaan alam kita, tapi penajajah pun “sukses besar” meruska mental bangsa hingga anak cucunya kini. Akibatnya dihari ini saat mental bangsa sudah jatuh, maka sehebat apapun, sepintar apapun kita selalu akan menjadi negara terbelakang. Kita menjadi bangsa latah yang selalu tertinggal beberapa langkah.
Mungkin sebagian besar dari kita belum menyadari bahwa mental inlander ada dirinya. Contoh sederhananya begini. Saat bertemu bule, langsung minta foto bareng. Entah bule itu seorang pejabat, artis, penjahat, ataupun profesi di negerinya, kita berpikir “Ah, yang penting bule.” Yang kemudian di upload ke sosmed dan menunjukkan kalau dia bangga foto dengan bule. Emang bule jasa nya apa sih terhadap bangsa kita?
Contoh lain dari mental inlander adalah sikap sebagian artis yang lebih memilih menikah dengan bule entah itu bule pria ataupun bule wanita. Alasannya “untuk memperbaiki keturunan.” Tunggu sebentar, berarti secara tidak langsung mereka menganggap gen asli orang indonesia adalah gen yang gagal, yang rusak! Sadis ya.

Di bidang mode, kita terlalu memaksakan agar terlihat seperti orang bule. Entah itu gaya rambut ataupun gaya berpakain. Yang kita ketahui kuliat orang Indonesia itu bervariasi ada yang berkulit agak putih, sawo matang, coklat kemerahan hingga hitam. Banyak orang yang mengecat rambutnya berwarna pirang agar terlihat seperti orang bule. Bagi orang bule yang memang berkulit putih bersih akan terlihat serasi dengan rambut berwarna pirang. Lah kita? Bayangkan saja sendiri deh gimana anehnya. Tapi tak usah di bayangkan juga sudah banyak kok “makhluk aneh” di sekitar kita. Yang lebih parah adalah operasi plastik agar lebih benar-benar seperti orang bule. Dalam konteks yang lebih global, bangsa kita tidak bersyukur sama sekali atas apa yang telah di berikan Tuhan kepada kita.

Mental inlander adalah program brain washing yang belum kita sadari. Yang membuat kita tidak merasa bangga dengan bangsa sendiri. Kita selalu tidak percaya diri. Memang keliru juga jika kita terlalu percaya diri. Harus kita akui kita memang harus belajar banyak dari negeri barat soal teknologi, dan ilmu pengetahuan. Bukan gaya dan pola hidupnya yang jelas-jelas berbeda dengan budaya kita!  Kita harus bangga dengan kearifan warisan leluhur kita. Kita harus bangga dengan gen Indonesia. Bangga dengan warna kulit dan rambut kita.
Kita harus cepat-cepat memperbaiki mental kita jika tidak ingin semakin di injak-injak. Perbaikan pertam dilakukan dengan cara merubah paradigm bangsa yang terlalu mengagungkan bangsa asing. Sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya, kita harus bangga dengan bangsa kita sendiri. Jika sudah ada rasa bangga terhadap bangsa sendiri sikap percaya diri akan muncul dengan sendirinya. Sehingga, apabila memandang bangsa lain kita tidak merasa minder dan merasa dapat bersaing dengan mereka.

Apabila semuanya sudah dikombinasikan dengan baik, pasti bangsa kita akan punya jati diri sendiri serta berkarakter kuat dan tidak akan terombang-ambing  oleh ideology asing.  Sehingga Indonesia tidak lagi menjadi negara boneka ataupun negara “pelacur” yang “terpekosa” mental dan pikirannya. Melainkan negara yang independen serta tidak terlalu bergantung pada negara lain. Mari kita merdekakan bangsa kita sekali lagi! Kemerdekaan yang sesungguhnya!