Rabu, 25 November 2015

Kemerdekaan Semu

Inlander, sebuah kata yang bermakna “ejekan” penjajah Belanda pada kaum pribumi, tepatnya masyarakat Nusantara. Memang 350 tahun masa penjajahan Belanda bisa dikatakan debatable. Yang pasti, Belanda teramat lama lama di Nusantara ini.  Belanda adalah penjajah Nusantara paling lama dibadingkan dengan penjajah lainnya macam Spanyol, Portugis, Inggris, dan Jepang. Dan efeknya adalah masih ada sisa-sisa jajahannya, seperti bangunan,sistem,bahasa,budaya hingga mental! Ya mental Inlander! Mental pesuruh! Ya, ini adalah mental peninggalan penjajah Belanda.

Mental inlander, berarti kondisi jiwa, sikap, dan perilaku, yang selalu menganggap dari luar(barat) itu baik, maju, modern, pantas. Dan menganggap budaya dari bangsanya sendiri itu buruk, kolot, primitive, ketinggalan zaman, terbelakang, dan tidak pantas. Dengan kata lain, inlander adalah perasaan rendah hati sebagai bangsa Indonesia. Miris!

Ya kita harus akui memang kemampuan penjajah menciptakan mental inlander ini. Bukan hanya mengeruk kekayaan alam kita, tapi penajajah pun “sukses besar” meruska mental bangsa hingga anak cucunya kini. Akibatnya dihari ini saat mental bangsa sudah jatuh, maka sehebat apapun, sepintar apapun kita selalu akan menjadi negara terbelakang. Kita menjadi bangsa latah yang selalu tertinggal beberapa langkah.
Mungkin sebagian besar dari kita belum menyadari bahwa mental inlander ada dirinya. Contoh sederhananya begini. Saat bertemu bule, langsung minta foto bareng. Entah bule itu seorang pejabat, artis, penjahat, ataupun profesi di negerinya, kita berpikir “Ah, yang penting bule.” Yang kemudian di upload ke sosmed dan menunjukkan kalau dia bangga foto dengan bule. Emang bule jasa nya apa sih terhadap bangsa kita?
Contoh lain dari mental inlander adalah sikap sebagian artis yang lebih memilih menikah dengan bule entah itu bule pria ataupun bule wanita. Alasannya “untuk memperbaiki keturunan.” Tunggu sebentar, berarti secara tidak langsung mereka menganggap gen asli orang indonesia adalah gen yang gagal, yang rusak! Sadis ya.

Di bidang mode, kita terlalu memaksakan agar terlihat seperti orang bule. Entah itu gaya rambut ataupun gaya berpakain. Yang kita ketahui kuliat orang Indonesia itu bervariasi ada yang berkulit agak putih, sawo matang, coklat kemerahan hingga hitam. Banyak orang yang mengecat rambutnya berwarna pirang agar terlihat seperti orang bule. Bagi orang bule yang memang berkulit putih bersih akan terlihat serasi dengan rambut berwarna pirang. Lah kita? Bayangkan saja sendiri deh gimana anehnya. Tapi tak usah di bayangkan juga sudah banyak kok “makhluk aneh” di sekitar kita. Yang lebih parah adalah operasi plastik agar lebih benar-benar seperti orang bule. Dalam konteks yang lebih global, bangsa kita tidak bersyukur sama sekali atas apa yang telah di berikan Tuhan kepada kita.

Mental inlander adalah program brain washing yang belum kita sadari. Yang membuat kita tidak merasa bangga dengan bangsa sendiri. Kita selalu tidak percaya diri. Memang keliru juga jika kita terlalu percaya diri. Harus kita akui kita memang harus belajar banyak dari negeri barat soal teknologi, dan ilmu pengetahuan. Bukan gaya dan pola hidupnya yang jelas-jelas berbeda dengan budaya kita!  Kita harus bangga dengan kearifan warisan leluhur kita. Kita harus bangga dengan gen Indonesia. Bangga dengan warna kulit dan rambut kita.
Kita harus cepat-cepat memperbaiki mental kita jika tidak ingin semakin di injak-injak. Perbaikan pertam dilakukan dengan cara merubah paradigm bangsa yang terlalu mengagungkan bangsa asing. Sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya, kita harus bangga dengan bangsa kita sendiri. Jika sudah ada rasa bangga terhadap bangsa sendiri sikap percaya diri akan muncul dengan sendirinya. Sehingga, apabila memandang bangsa lain kita tidak merasa minder dan merasa dapat bersaing dengan mereka.

Apabila semuanya sudah dikombinasikan dengan baik, pasti bangsa kita akan punya jati diri sendiri serta berkarakter kuat dan tidak akan terombang-ambing  oleh ideology asing.  Sehingga Indonesia tidak lagi menjadi negara boneka ataupun negara “pelacur” yang “terpekosa” mental dan pikirannya. Melainkan negara yang independen serta tidak terlalu bergantung pada negara lain. Mari kita merdekakan bangsa kita sekali lagi! Kemerdekaan yang sesungguhnya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar